“Informasi sekarang berkembang
sangat pesat dengan banyaknya media online yang sering menjadi acuan informasi,
padahal berita yang berkembang di media online khususnya media sosial perlu
dipilah-pilah.”
Yap!
Begitulah Kirana Diyah Prameswari, ketua panitia acara tahunan Pendidikan Jurnalistik
Dasar (PJD) mengungkapkan latar belakang acara yang mengulas tajuk “Pers Era
Timeline” dalam acara tahunan yang menginjak tahun kelima ini.
Acara
diselenggarakan selama dua hari oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang,
berlangsung dari Sabtu hingga Minggu kemarin, di Gedung Serba Guna
Fakultas Ilmu Keolahragaan.
Dihadiri sebanyak 140 peserta baik dari SMA
sederajat, mahasiswa, dan masyarakat umum, disambut antusiasme tinggi oleh para
peserta.
“Menambah
pengetahuan, relasi tentang ilmu jurnalistik karena saya ikut bergabung dalam
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di PGSD Unnes,” ungkap Mochammad Huda Kurniawan
mengenai tujuan ia mengikuti acara PJD.
Pada
hari pertama acara diisi oleh Aulia A. Muhammad, pengelola Rumah Media Semarang
yang membahas mengenai kekurangan dan kelebihan era timeline dan keberadaan media
cetak saat ini di tengah lalu lintas media online.
Ada
pertanyaan menarik dari salah satu peserta yang diajukan kepada Aulia, “Apa sih
kelebihan dan kekurangannya berita yang telah masuk ke media sosial?” Bang Aul,
sapaan akrab dari panitia untuk Aulia A. Muhammad, pun menjawab, “Kelebihannya,
jika ada berita terbaru pasti akan diperbarui informasi tersebut tiap detiknya.
Sedangkan kekurangannya, jika ada berita menyangkut persoalan sensitif dalam
masyarakat, informasi tersebut akan mudah dan cepat menuai kecaman dengan
berbagai perspektif.”
Materi
kedua di hari pertama diisi oleh Raditya Mahendrayasa atau biasa disapa Radit.
Materi yang disampaikan mengenai fotografi jurnalistik disertai praktik
pengambilan gambar oleh para peserta di akhir acara, yang kemudian dievaluasi
oleh Radit. “Peserta sebelumnya dikelompokkan menjadi 10 kelompok untuk
melakukan praktik pegambilan foto jurnalistik di sekitar wilayah pelaksanaan
acara seminar,” ungkap koordinator acara, Eva Rafikoh.
Redaktur
Tribun Jateng Achiar Permana, Redaktur
Suara Merdeka Saroni Asikin, dan Ketua
AJI Semarang Muhammad Rofiuddin, hadir sebagai pengisi acara di hari kedua.
Mengenai materi yang disampaikan setiap pembicara memiliki fokus pembahasan
yang berbeda-beda. Achiar fokus mengenai prinsip jurnalistik bagi pers mahasiswa.
Saroni membahas mengenai proses reportase. Kemudian, Rofiuddin dari AJI mengulas
mengenai regulasi dan etika jurnalistik.
“Ilmu
jurnalistik yang dibahas dalam acara ini, menurutku keren banget. Ada keinginan juga
suatu saat bisa menjadi jurnalis, tapi untuk saat ini belum siap. Terlebih
melihat tantangan-tantangan jurnalis,” ungkap Vitria Maynora, salah satu
peserta acara dari Unnes jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3.
Nah, selain pelatihan jurnalistik, acara ini juga
diramaikan dengan pameran foto dari Klik, UKM Fotografi dan lukisan dari UKM Desain.
“Memberikan pengetahuan mengenai dunia pers dan
memberikan arahan agar sebagai penikmat media online, kita harus dapat aktif
memilah-milah berita yang diinformasikan,” begitulah harapan Kirana.







0 comments:
Post a Comment