Saturday, 29 November 2014

Pers Era Timeline

“Informasi sekarang berkembang sangat pesat dengan banyaknya media online yang sering menjadi acuan informasi, padahal berita yang berkembang di media online khususnya media sosial perlu dipilah-pilah.”
Yap! Begitulah Kirana Diyah Prameswari, ketua panitia acara tahunan Pendidikan Jurnalistik Dasar (PJD) mengungkapkan latar belakang acara yang mengulas tajuk “Pers Era Timeline” dalam acara tahunan yang menginjak tahun kelima ini.

Acara diselenggarakan selama dua hari oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang, berlangsung dari Sabtu hingga Minggu kemarin, di Gedung Serba Guna Fakultas Ilmu Keolahragaan.  
 Dihadiri sebanyak 140 peserta baik dari SMA sederajat, mahasiswa, dan masyarakat umum, disambut antusiasme tinggi oleh para peserta.
“Menambah pengetahuan, relasi tentang ilmu jurnalistik karena saya ikut bergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di PGSD Unnes,” ungkap Mochammad Huda Kurniawan mengenai tujuan ia mengikuti acara PJD.  
Pada hari pertama acara diisi oleh Aulia A. Muhammad, pengelola Rumah Media Semarang yang membahas mengenai kekurangan dan kelebihan era timeline dan keberadaan media cetak saat ini di tengah lalu lintas media online.
Ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta yang diajukan kepada Aulia, “Apa sih kelebihan dan kekurangannya berita yang telah masuk ke media sosial?” Bang Aul, sapaan akrab dari panitia untuk Aulia A. Muhammad, pun menjawab, “Kelebihannya, jika ada berita terbaru pasti akan diperbarui informasi tersebut tiap detiknya. Sedangkan kekurangannya, jika ada berita menyangkut persoalan sensitif dalam masyarakat, informasi tersebut akan mudah dan cepat menuai kecaman dengan berbagai perspektif.    
Materi kedua di hari pertama diisi oleh Raditya Mahendrayasa atau biasa disapa Radit. Materi yang disampaikan mengenai fotografi jurnalistik disertai praktik pengambilan gambar oleh para peserta di akhir acara, yang kemudian dievaluasi oleh Radit. “Peserta sebelumnya dikelompokkan menjadi 10 kelompok untuk melakukan praktik pegambilan foto jurnalistik di sekitar wilayah pelaksanaan acara seminar,” ungkap koordinator acara, Eva Rafikoh.  
Redaktur Tribun Jateng Achiar Permana, Redaktur Suara Merdeka Saroni Asikin, dan Ketua AJI Semarang Muhammad Rofiuddin, hadir sebagai pengisi acara di hari kedua. Mengenai materi yang disampaikan setiap pembicara memiliki fokus pembahasan yang berbeda-beda. Achiar fokus mengenai prinsip jurnalistik bagi pers mahasiswa. Saroni membahas mengenai proses reportase. Kemudian, Rofiuddin dari AJI mengulas mengenai regulasi dan etika jurnalistik.
“Ilmu jurnalistik yang dibahas dalam acara ini, menurutku keren banget. Ada keinginan juga suatu saat bisa menjadi jurnalis, tapi untuk saat ini belum siap. Terlebih melihat tantangan-tantangan jurnalis,” ungkap Vitria Maynora, salah satu peserta acara dari Unnes jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3.
Nah, selain pelatihan jurnalistik, acara ini juga diramaikan dengan pameran foto dari Klik, UKM Fotografi dan lukisan dari UKM Desain.
“Memberikan pengetahuan mengenai dunia pers dan memberikan arahan agar sebagai penikmat media online, kita harus dapat aktif memilah-milah berita yang diinformasikan,” begitulah harapan Kirana. 



0 comments:

Post a Comment