Penuh
semangat dan rasa suka cita jargon “Ganbate Luar Biasa” menggema dalam jiwa
seluruh kontingen pramuka yang mengikuti acara Wijaya Rover Challenge (WRC) di
lapangan Fakultas Bahasa dan Sastra Unnes.
Berlangsung
selama tiga hari, serangkaian kegiatan diadakan dalam Wijaya Rover Challenge
yang dimulai dari Jumat lalu (31/10). Yaitu ada kompetisi mocopat, kontes
bahasa Inggris, monolog bahasa Inggris, fotografi, hastakarya, dan putra-putri
WRC.
“Melalui
acara pramuka yang kami beri nama Wijaya Rover Challenge ini ingin memberikan
tambahan wawasan tentang kepramukaan dan pengenalan tindakan konservasi,”
ungkap Rini Sarwiyah, ketua panitia WRC atau biasa disebut ketua sangga kerja WRC
oleh kontingen kepramukaan Guguslatih Bahasa dan Seni Unnes.
“Ganbate
Luar Biasa” terbukti jargon mujarab dan kumpul bercakap-cakap dengan para
penegak lainnya menjadi obat lelah para kontingen, karenanya semangat tergambar
selalu dari raut seluruh peserta dan panitia pada setiap kegiatan. Mereka
mengaku, “Meski lelah karena padatnya kegiatan dan cuaca Kota Semarang yang
panas, kumpul terutama di bawah pohon yang rindang adalah sensasi dari esensi
kebersamaan dalam WRC ini.”
Acara
semakin meriah tatkala menentukan putra-putri WRC 2014 di Sabtu malam. “Malam
penganugrahan putra-putri WRC dimulai dari pukul tujuah hingga dua belas yang
diikuti dengan sangat antusias oleh 19 putra dan 17 putri perwakilan dari
berbagai sangga (regu) SMA sederajat di Jawa tengah,” jelas Rini.
“Di
lapangan terbuka, pemilihan putra-putri WRC 2014 lebih ramai dibanding perayaan
dua tahun lalu,” imbuhnya.
Menggunakan
pakaian kebaya yang sudah dipersiapkan dari rumah masing-masing para kontestan
putra-putri ditantang untuk dapat berpenampilan yang menarik, menyampaikan
gagasananya dengan pengetahuan yang mereka miliki.
“Ada
tiga aspek penilain yang diakumulasikan untuk menentukan pemenang putra-putri
WRC. Pengetahuan dinilai dari konten jawaban dari pertanyaan yang diberikan.
Kecakapan dinilai dari kefasihan peserta menjawab pertanyaan tersebut.
Kemudian, penampilannya dinilai dari bakat yang ditampilkan peserta,” jelas
Lutfiana Ilma Annisa, juri WRC 2014 dari Koordinator Putri Guguslatih Bahasa
dan Seni, sekaligus anggota Racana Wijaya Unnes 2013.
Terdiri
dari beberapa tahap seleksi, yaitu seleksi makalah dan tes tertulis untuk
menyaring 10 besar kontestan. Setelah itu, pertanyaan langsung yang diberi
waktu menjawab 30 detik adalah seleksi untuk menyaring 3 besar. Pada tahap 3
besar sekaligus penentuan juara pertama, ketiga finalis diseleksi dengan
pertanyaan langsung dan ditantang menunjukkan bakat mereka.
Bebagai
persiapan dan cara finalis lakukan untuk mengahalau rasa gugup mereka. Berusaha
untuk memberikan yang terbaik atas nama sekolah adalah motivasi mereka.
“Aku
belajar dari jauh-jauh hari di rumah karena ini pengalaman pertama mengikuti
kompetisi pramuka,” ungkap Muhammad Indra Majid dari SMA Negeri 1 Kaliwungu,
Kendal. “Nggak menyangka dan seneng banget pengalaman pertama ini ternyata aku
bisa terpilih menjadi putra WRC 2014 membanggakan sekolahku,” ucapnya dengan
syukur.
Sama
halnya dengan Indra, bagi Sinta Nofita dari SMA Negeri 3 Pekalongan, kegiatan
kompetisi WRC 2014 adalah pengalaman kompetisi pertamanya yang dapat membuahkan
kemenangan. Terpilih sebagai putri WRC 2014, Sinta mengaku tidak memiliki
persiapan lebih selain membuat makalah yang ditentukan panitia.
“Aku
nggak belajar sama sekali, aku cum apakai logika di setiap jawaban,” ungkap
cewek juara kelas ini.
“Dari
nilai angka 60-100 di setiap aspek penilaian yang diberikan empat juri, hasil
akumulasinya juara putra WRC 2014 mendapatkan total nilai 994, sedangkan juara
putri WRC 2014 mendapatkan nilai 1004,” terang Wahyu Haryadi, Juara 2 Duta
Wisata Kabupaten Banjarnegara yang berkesempatan menjadi juri pada malam
penobatan putra-putri WRC 2014.
“Meski,
sebenarnya kalah saing dengan peserta putri lain yang menampilkan tarian jawa
kreasi dalam sesi unjuk bakat, kecakapan dan pengetahuan Sinta ini nggak perlu
diragukan, karena ia dengan lancar dapat menjawab setiap pertanyaan,” ungkap
Wahyu.
“Semoga
dari serangkaian kegiatan ini dapat memberikan pembelajaran bagi peserta untuk
dapat menjadi pramuka konservasionis dan dapat aktif mengembangkan bakat diri,”
papar Rini.







0 comments:
Post a Comment